Heterogenitas merupakan
hal yang sangat umum ditemukan dalam berbagai aspek, tidak terkecuali dalam kehidupan
bermasyarakat suatu negara di mana individu di dalamnya bukanlah barang hasil
output pabrik yang telah “diprogram’ sama. Berdasarkan pengertiannya dalam KBBI
(2019), heterogenitas merupakan berbagai unsur yang berbeda sifat atau
berlainan jenis. Pengertian tersebut tentunya sangat tepat untuk mendeskripsikan
Indonesia, baik dari segi letak geografis, agama, etnis, bahasa daerah,
pakaian, makanan, hingga budayanya. Kehadiran perbedaan tersebut tentunya akan
berpengaruh terhadap pola interaksi masyarakat di dalamnya.
Menghadapi keheterogenan
yang ada tentunya bukanlah hal yang baru bagi bangsa ini. Keadaan tersebut
dapat dilihat dari masa perjuangan perebutan kemerdekaan, di mana keberhasilan
diraih dengan adanya semangat persatuan nasional yang tidak hanya mengutamakan
perjuangan yang bersifat kedaerahan. Keberhasilan tersebut tentunya juga
merupakan sebuah cerminan besar bahwa banyaknya perbedaan yang ada akan
menimbulkan kekuatan yang besar pula saat disatukan dalam semangat persatuan
dan kesatuan. Nilai-nilai luhur yang dimiliki bangsa Indonesia kemudian menjadi
dasar bagi terbentuknya nilai yang dikandung Pancasila dalam kelima silanya yang
menjadi ideologi, pandangan hidup, dan way of life bagi seluruh
masyarakat Indonesia. Menghadapi heterogenitas juga tidak ada bedanya dengan meresapi
serta mengimplementasikan slogan bangsa ini yang bermakna walaupun berbeda-beda
tetapi tetap satu juga, “Bhinneka Tunggal Ika”.
Bercermin dari
kebhinekaan masyarakat Indonesia tersebut, dapat dilihat bahwa heterogenitas
menjadi kekuatan tersendiri bagi bangsa ini ketika telah memiliki tujuan yang
sama dijembatani oleh rasa toleransi. Namun, dalam perjalanannya hingga saat
ini, tentunya heterogenitas tidak hanya menimbulkan dampak positif.
Gesekan-gesekan yang berkaitan dengan perbedaan yang ada juga tidak jarang
menimbulkan konflik yang tidak bisa dianggap remeh. Hal tersebut bersesuaian
dengan yang dinyatakan oleh Arif (2019) di mana heterogenitas justru sering
memicu timbulnya konflik antarkelompok masyarakat. Konflik-konflik
antarkelompok masyarakat tersebut berpotensi menyebabkan distabilitas keamanan,
sosio-ekonomi, dan ketidakharmonisan sosial (social disharmony). Faktanya,
gesekan-gesekan konflik memang tidak dapat dihindarkan sebagai akibat dari
melemahnya toleransi yang ada, contohnya saja pada tahun 2016 terjadi kasus
pembakaran vihara di Tanjung Balai, Sumatera Utara, kasus penistaan agama Islam
di Jakarta, dan tidak ketinggalan pergesekan antarmasyarakat yang sempat terjadi
pada perhelatan pesta rakyat baru-baru ini.
Sumber:
BPS (2017)
Gambar 1.
Persentase Rumah Tangga yang menyatakan sangat setuju/setuju terhadap kegiatan
oleh suku bangsa atau agama lain, 2012 dan 2014.
Berdasarkan fakta
tersebut terbukti bahwa tanpa adanya toleransi atas perbedaan yang ada,
heterogenitas tidak ada bedanya dengan sekat-sekat yang saling membedakan di
mana saat perbedaan tersebut bertentangan akan berpotensi menyebabkan sebuah
konflik yang berujung pada perpecahan. Tidak salah jika Presiden pertama bangsa
Indonesia menyatakan bahwa perjuangan sekarang lebih berat karena melawan
bangsanya sendiri mengingat penurunan sikap toleransi yang terjadi. Hal
tersebut bahkan dapat diperlihatkan dari perbandingan salah satu indikator
toleransi pada data Susenas tahun 2014 dengan Susenas tahun 2016 yang
mengindikasikan sedikit penurunan tren sikap toleransi (dapat dilihat pada
gambar 1). Bercermin dari buruknya dampak yang dapat terjadi, menanamkan sikap
toleransi dinilai sangatlah penting dilakukan untuk menciptakan ketentraman
dalam hidup bermasyarakat sekaligus untuk mendukung keberhasilan pembangunan di
Indonesia.
Dilatarbelakangi
kesadaran akan hal tersebut, pemerintah berusaha sedini mungkin menanamkan
nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila, tidak terkecuali toleransi
dengan menyisipkannya pada kurikulum mata pelajaran khusus seperti PMP (Pendidikan
Moral Pancasila) yang belakangan digantikan oleh PKN (Pendidikan
Kewarganegaraan). Aspek dalam mata pelajaran ini sendiri telah didesain
sedemikian rupa sehingga dapat menanamkan pentingnya pengamalan nilai-nilai
moral yang terkandung dalam Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat. Selain
itu, program teranyar pemerintah dalam usaha menanamkan nilai-nilai luhur bangsa
ini adalah melalui pendidikan karakter yang wajib terkandung dalam setiap mata
pelajaran yang diajarkan di sekolah. Dalam pelaksanaannya, program tersebut
memang berjalan sesuai dengan fungsi dan tujuannya, namun tidak serta merta
menjamin diimplementasikannya hal tersebut dalam kehidupan di masyarakat sebagaimana
yang tercermin dari masih banyaknya konflik terjadi dilatarbelakangi oleh
heterogenitas.
Menilik dari hal
tersebut, didapatkan bahwa proses pendidikan melalui bangku sekolah saja tidak
cukup untuk menanamkan kesadaran dalam bertoleransi menghadapi heterogenitas,
terlebih dengan adanya perkembangan IPTEK yang mengantarkan masyarakat ke dunia
bebas tanpa batas yang justru berkontribusi memicu terjadinya perpecahan. Berkaca
dari hal tersebut, generasi muda merupakan aset puncak yang harus diawasi
mengingat generasi muda merupakan generasi yang kelak akan melanjutkan tugas
dan kewajiban generasi sebelumnya, termasuk dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Apalagi mengingat bahwa di Indonesia, generasi muda merupakan
pengguna internet terbanyak dibandingkan dengan kelompok usia lainnya dilihat
dari hasil survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet
Indonesia (APJII) di enam wilayah besar yaitu Jawa, Sumatera, Kalimantan,
Sulawesi, Bali-Nusra, dan Maluku-Papua. Hasil survei menunjukkan bahwa
komposisi pengguna internet berdasarkan usia adalah sebesar 49.52% pengguna
pada rentang usia 19-34 tahun, 29.55% pengguna pada rentang usia 35- 54 tahun,
16.68% pengguna pada rentang usia 13-18 tahun, dan 4.24% pengguna sisanya
berusia lebih dari 54 tahun (APJII, 2017).
Berangkat dari data
tersebut, dapat dikatakan bahwa kehidupan generasi muda sebagai generasi
milenial yang tidak dapat dilepaskan dari teknologi dan akses internet
merupakan sebuah paradoks. Di satu sisi, menurut Aljawiy dan Muclison (2012),
hal ini dapat menyebabkan beberapa dampak negatif diantaranya kurangnya
interaksi dengan dunia luar, kecanduan, tergantikannya kehidupan sosial,
pornografi, dan masih banyak lagi. Hal tersebut tentunya berpotensi menjadi hal
yang dapat memengaruhi perkembangan pola pikir, perilaku, dan psikologis dari
para generasi muda terutama dalam menghadapi heterogenitas alias perbedaan.
Generasi muda akan cenderung menjadi sosok yang apatis dan kurang peduli
terhadap lingkungan sekitarnya. Hal tersebut berarti generasi muda rentan
terkontaminasi oleh konten-konten yang dapat merusak moral yang jauh dari nilai-nilai
luhur bangsa ini salah satunya toleransi sehingga malah dapat memicu perpecahan
dalam bangsa ini. Di sisi lain, penggunaan teknologi yang ada secara positif
tentunya akan menimbulkan hasil yang jelas berbeda, di mana generasi muda dapat
menumbuhkan pemahamannya sendiri dan menyadari bahwa sikap toleransi merupakan
sesuatu yang sangat penting dan harus ada dalam keheterogenan. Sehingga yang
diperlukan adalah kesadaran dari dalam diri sendiri bahwa keberagaman yang ada
adalah beragam rasa satu jiwa, Bhinneka Tunggal Ika. Generasi muda
berkontribusi dalam toleransi.
Generasi Muda: Heterogenitas? Siapa
takut!!
Berdasarkan
pemaparan sebelumnya, generasi muda merupakan generasi paling rentan sekaligus ujung
tombak yang dapat menjaga bahkan meningkatkan sikap toleransi terhadap
heterogenitas yang ada. Rentannya generasi ini tentunya sudah dapat dinilai
dari kehadirannya yang tidak dapat dilepaskan dari perkembangan IPTEK.
Teknologi ditakutkan dapat membentuk karakter mereka tidak seperti seharusnya,
sehingga hal yang harus dilakukan generasi muda adalah membangkitkan kesadaran
dirinya atas pentingnya nilai-nilai luhur yang sejak dulu ada di dalam Pancasila,
tidak terkecuali sikap toleransi dalam menghadapi perbedaan. Selanjutnya,
dengan dimilikinya kesadaran dari dalam diri sendiri dan rasa memiliki
terhadapan perbedaan yang ada, hal tersebut akan menuntun generasi muda untuk
senantiasa menghindari hal-hal yang tidak sesuai baik di dunia maya maupun
dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam
rangka menumbuhkan perasaan memiliki dan sikap toleransi terhadap perbedaan,
generasi muda seharusnya bercermin dari lingkungan pertemanan di sekitarnya, di
mana semakin tinggi jenjang pendidikan atau pegaulan yang diikuti, semakin
beragam pula karakter, sifat, dan perbedaan-perbedaan lainnya. Berawal dari hal
yang dianggap kecil tersebut justru dapat disadari secara langsung bagaimana
keberagaman tidak lain dapat diibaratkan sebagai pelangi yang indah dengan
berbagai warna yang dimilikinya. Selain itu, tempat dan peristiwa yang telah
terjadi juga dapat dijadikan bahan evaluasi menyenai sikap toleransi yang telah
dipraktikkan langsung. Sebut saja salah satunya adalah Puja Mandala di Bali di
mana di dalamnya terdapat lima tempat ibadat sekaligus dalam satu area .
Meskipun perbedaan agama sangat kentara, namun sikap toleransi dan saling
menghormati sangat dijunjung tinggi sehingga yang dirasakan adalah semakin
eratnya rasa kekeluargaan antar masyarakat di sana. Di samping menjadikan
tempat sebagai pedoman, peristiwa masa lalu juga dapat dijadikan sebagai ajang
refleksi diri, di mana sesungguhnya bangsa ini besar hingga dapat merebut
kemerdekaan disaat perbedaan yang ada di dalamnya dilebur menjadi satu dalam
semangat persatuan. Di sisi lain, kejadian-kejadian kelam juga dapat dijadikan
sebagai pengingat bahwa konflik-konflik yang terjadi akibat perbedaan tentunya
tidak boleh kembali terjadi.
Selanjutnya,
generasi muda sebagai pengakses internet tertinggi yang melek teknologi juga
dapat memilih untuk menggunakan internet hanya untuk memenuhi keinginan semata
atau turut berkontribusi dalam rangka menjaga persatuan dan kesatuan bangsa
Indonesia. Daripada mengakses segala sesuatu yang hanya bertujuan untuk
kesenangan, sebenarnya sudah banyak akun di media sosial yang menyediakan
pandangan-pandangan terhadap perspektif orang berlatar belakang berbeda yang
bertujuan untuk membuka pemikiran pendengarnya bahwa alangkah baiknya jika perbedaan
disikapi dengan sikap toleransi, bukannya cenderung mengkritik dan mencari-cari
kelemahan yang biasanya berujung dengan konflik. Dengan meresapi hal tersebut, generasi
muda diharapkan tidak berpartisipasi dalam kegiatan menjelek-jelekkan orang
lain melalui komentar pedas di media sosial, hate speech, penyebaran hoax,
body shaming, dan hal-hal lainnya yang tidak bersesuaian dengan
nilai-nilai Pancasila.
Setelah
berhasil mendapatkan kesadaran dari dalam diri untuk merengkuh perbedaan, hingga
mampu mengimplementasikan, diharapkan generasi muda dapat menjadi contoh bagi
lingkungan di sekitarnya termasuk berpartisipasi menjadi pengontrol dalam hal
meminimalisasi konflik yang terjadi akibat perbedaan yang ada. Hal tersebut
tentunya merupakan langkah yang tepat di mana menurut hasil analisis regresi
logistik biner menyatakan bahwa jika dilihat dari segi usia, responden yang
lebih tua cenderung kurang toleran dibandingkan responden yang lebih muda
(PDSPK, 2017). Generasi muda nantinya bertugas sebagai pengingat bagi generasi
lainnya bahwa perbedaan yang ada, baik itu perbedaan pemikiran, warna kulit,
agama, dan perbedaan lainnya tidak lain merupakan warna-warna berbeda yang
berkontribusi dalam menghasilkan lukisan yang indah. Di mana gesekan akibat
perbedaan tersebut harus dihadapi dengan toleransi sesuai dengan nilai luhur
yang terkandung dalam Pancasila, bukannya konflik yang dapat berujung pada
terpecah belahnya persatuan dan kesatuan bangsa ini.
Pemaparan di atas dapat
ditutup dengan sebuah kesimpulan, di mana sebagai bangsa yang heterogen hal
yang paling penting untuk menjembatani satu sama lain adalah toleransi.
Berbicara mengenai heterogenitas dan toleransi tentunya bukan hanya semata-mata
mengenai banyak pulau yang ada, banyak suku, jumlah bahasa, dan sebagainya,
tetapi juga mengenai bagaimana sikap toleransi sebagai jembatan dari
heterogenitas tersebut harus tetap utuh bahkan bertambah dari generasi ke
generasi. Berangkat dari hal tersebutlah generasi muda kini lah yang menjadi
ujung tombak dalam mempertahankan hal tersebut, sehingga heterogenitas tidak
lagi dianggap sebagai sebuah hambatan atau pemicu konflik, melainkan sebagai
sumber kekuatan, karena walaupun berbeda-beda tetapi satu jua. Bhinneka Tunggal
Ika. Beragam rasa satu jiwa.
DAFTAR PUSTAKA
----------. Kamus Besar Bahasa Indonesia. [Online].
Tersedia pada kbbi.kemdikbud.go.id/entri/ (diakses pada tanggal 15 Juli 2019).
Aljawiy, Abdillah Yafi dan Ahmad Muklason. 2012.
Jejaring Sosial dan Dampak Bagi Penggunanya. Tugas Akhir (tidak diterbitkan).
Jurusan Sistem Informasi, Fakultas Teknologi Infomasi Institut Teknologi
Sepuluh Nopember.
APJII. 2017. Infografis
Penetrasi dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia. Tersedia pada
www.teknopreneur.com (diakses pada 16 Juli 2019).
Arif,
Dikdik Baehaqi. 2019. Membingkai Keberagaman Indonesia: Perspektif
Pendidikan Kewarganegaraan Program Kurikuler. Tugas Akhir. Tidak
Diterbitkan.
BPS dalam Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan
Kebudayaan. 2017. Analisis Faktor faktor yang Memengaruhi Toleransi di
Indonesia. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan
(PDSKP). 2017. Analisis Faktor faktor yang Memengaruhi Toleransi di
Indonesia. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
