“Kita melawan dominasi laki-laki bukan untuk mengubahnya menjadi dominasi perempuan, tetapi untuk membuat lelaki dan perempuan setara sebagai sesama manusia.”
Judul: Sambal dan
Ranjang
Penulis: Tenni
Purwanti
Penerbit: GPU
Jml hal: 188 halaman
Hola 2021! Mohon maaf telat menyapa wkwk, abis sibuk UAS sama mager hehe #dasaraku. Jadi buku pertama tahun ini adalah akibat teracuni saat ikut Sabtu Buku Narasi, yaitu kumpulan cerpen ini yeay. Buku ini terdiri dari 16 cerpen yang menyinggung berbagai hal seperti problematika perempuan, korupsi, cinta, dan kesehatan mental. Jujur suka banget sih sama setiap cerpennya, di mana tak jarang menyinggung hal-hal yang mungkin selama ini masih dianggap tabu oleh banyak orang. Hmmm selain ada yang menganggap tabu, menurutku banyak yang masih belum tau juga ya tentang isu-isu yang dibahas di sini jadi bagus banget untuk jadi sarana mengedukasi gitu. Tidak ketinggalan, cerpen ini juga mengandung kritik sosial di sana sini, melalui penggambaran bagaimana selama ini masyarakat hingga hukum bereaksi terhadap isu-isu yang diangkat.
Pokoknya ya buku ini menggambarkan bagaimana permasalahan perempuan sebenarnya sangat dekat dengan kita misalnya saja koruptor yang tidak jelas hukumannya, patriarki, victim blaming jika terjadi pemerkosaan, gangguan kesehatan mental yang dianggap kesurupan oleh masyarakat (wkwkwk :v), self diagnose, hingga seks. Hmm kasih tau beberapa yang kusuka deh, diantaranya “Salma dan Salwa” yang nyeritain sepasang anak kembar bernama Salma, menikah muda dan Salwa yang berprofesi sebagai wartawan salah satu media online. Diceritakan, Salwa ini menderita depresi sehingga berulang kali harus masuk rumah sakit untuk mendapatkan penanganan jika depresinya sedang kambuh. Pernah suatu ketika mereka sakit bersamaan sehingga dirawat di ruangan yang sama. Sebagai adik yang baik Salwa selalu mendukung kakaknya terutama saat ia memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidup, ia juga mendengar kakaknya yang curhat bahwa tempat kerjanya belum mampu memberikan toleransi terhadap gangguan mental. Nah, singkat cerita, lama setelah itu, setelah melahirkan anak kedua, Salma terkena baby blues yang memburuk menjadi postpartum depression. Hal ini menyebabkan ia merasa sangat benci terhadap anak yang baru dilakirkannya. Guess what? Keluarga suaminya malah mendatangkan ustadz untuk merukyah dirinya. Hmmm hmm hmmm... Jadii ya sejenis itulah guys ceritanya. Btw ngomong2 soal depresi sepasang anak kembar ini, aku pernah baca di Loving the Wounded Soul-nya Regis Machdy, gen merupakan salah satu faktor biologis yg memengaruhi depresi lho, di mana menurut twin studies di Swedia menyatakan bahwa kemungkinan sebesar 38% depresi diturunkan. Jika salah satu dari anak kembar depresi maka kembarannya juga sangat beresiko mengalami depresi pada fase hidupnya. Jadi, tidak mengherankan jika peristiwa pada Salwa dan Salma ini terjadi.
Ada juga cerita berjudul “Gadis yang Memeluk Dirinya Sendiri” yang terus-terusan merasa sesak nafas dan tiba-tiba kaku sehingga menganggap dirinya akan terkena stroke karena gejala tersebut, ia juga terus berpikir bahwa ia menderita bipolar karena sering mengalami mood swing. Nah ternyata oh ternyata, setelah memeriksakan diri ke rumah sakit dan hasil pemeriksaan menunjukkan ia tidak terkena dan tidak berpotensi stroke, dia disarankan untuk menemui psikiater yang kemudian memberikan diagnosis bahwa ia mengalami OCD. Bahkan untuk memastikan itupun masih memerlukan berkali-kali tes dan pemeriksaan, jadi inti amanatnya sih jangan cepet-cepet self diagnose pren, dann kesadaran bahwa kamu memerlukan bantuan ahli juga sangat diperlukan untuk menolong diri sendiri lhoo 😊 Next, cerita terakhir berjudul “Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa” yang menceritakan tentang suami istri di malam pertama mereka (tapi ini terjadi berbulan-bulan setelah mereka menikah). Kenapa? Karena si istri ternyata punya trauma tentang hubungan intim ia lakukan karena dipaksa calon suaminya dulu. Hmmm intinya menuru tku cerita ini menyorot tentang “consent” sih, di mana seharusnya kedua pihak setuju saat dalam keadaan sadar (kalo enggak ya jatuhnya rape juga nggak sih) dan kalo mau “gitu” wkwkwk. Daann salut banget sih sama yang cowok di mana dia pengertian sama pasangannya hmm. Yaa sekian review buku pertama kali tahun ini hmmm
